Selasa, 06 Desember 2016

Pendidikan di Zimbabwe

            Bumi merupakan planet ketiga dari matahari yang terdiri atas berbagai macam benua yang mana dapat kita bagi lagi menjadi berbagai macam negara. Negara-negara ini memiliki hak untuk memberikan pendidikan yang layak bagi generasi mudanya. Mengingat banyaknya negara, metode pendidikan yang diterapkan pun ada berbagai macam pula.

            Dari sekian banyak negara tersebut, kami akan membahas salah satu negara di benua Afrika Selatan yaitu Zimbabwe. Zimbabwe terkenal akan tingginya inflasi, dimana jika anda melihat setumpuk uang dalam keranjang, maka keranjangnya memiliki nilai lebih tinggi dari tumpukan uang.

            Menurut Wikipedia, sistem pendidikan di Zimbabwe terbagi menjadi dua, yaitu pendidikan nasional dan pendidikan swasta. Dana yang digunakan untuk pendidikan pada tahun 2013 mencapai $750 Juta. Sangat jauh jika dibandingkan dengan Indonesia yang mana menurut Wikipedia mencapai $27 Milyar pada tahun 2014.

           Dengan kondisi ekonomi yang bisa dibilang buruk, bagaimanakah mereka menjalankan sistem pendidikannya? Mari kita bahas lebih lanjut.

           Berdasarkan laporan berjudul Universal Periodic Review (UPR) of the Republic of Zimbabwe halaman 1, Undang-undang Pendidikan Zimbabwe menyatakan bahwa tiap-tiap anak memiliki hak untuk belajar dan memperoleh pendidikan namun tidaklah bebas biaya karena mereka harus membayar biaya pendidikan dan biaya pembangunan juga.

            Kualitas pendidikannya sendiri dapat dibilang buruk pula, mengingat menurut Wikipedia bagian Access to quality education, Zimbabwe menerapkan dua sesi dalam pembelajaran, yaitu sesi pagi dimana setengah murid belajar, dan sesi siang dimana setengah sisanya belajar. Sesi seperti ini, dibilang buruk karena murid tidak mendapat cukup perhatian dan waktu untuk belajar.

            Tingkatan pendidikan Zimbabwe menurut Wikipedia terdiri atas 4 tahap, yaitu:

1.      Tahap Awal Pendidikan
Pendidikan awal di zimbabwe ditujukan untuk anak usia tiga sampai lima tahun dan diatur berdasarkan sistem Early Childhood Development (ECD) dibawah Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah.

2.      Pendidikan Dasar

            Pendidikan Dasar di Zimbabwe berlangsung selama 7 tahun yang dibagi menjadi 7 kelas, mulai dari kelas 1-7. Di daerah perkotaan, para guru mengajar dengan menggunakan bahasa inggris. Sedangkan di pedesaan, para guru mengajar dengan bahasa daerah mereka, biasanya Shona atau Ndebele. Di kelas 3, barulah transisi ke bahasa inggris dilakukan. Materi yang diajarkan biasanya adalah Bahasa, Kesenian, dan beberapa materi Matematika. Diakhir kelas 7, diadakan Ujian Nasional mata pelajaran Matematika, Inggris, Shona dan Ndebele , dan pelajaran umum yang terdiri atas Ilmu Sosial, Ilmu Lingkungan, dan Pendidikan Agama.

3.      Pendidikan Menengah

            Di pendidikan menengah, pendidikan tidak lagi dibiayai oleh pemerintah. Para pelajar bisa memilih lanjut ke Sekolah Swasta Asrama, Sekolah Nasional Asrama, atau Sekolah Biasa, Seluruhnya dipungut biaya. Pendidikan menengah Zimbabwe mengadaptasi dari sistem pendidikan British, yang mana terdiri atas dua siklus, yang pertama Sertifikat Umum, atau tingkat biasa, yang berlangsung selama 4 tahun, dan siklus Sertifikat Umum Lanjutan atau tingkat lanjut, yang berlangsung selama 2 tahun. Materi yang diajarkan selama Pendidikan Menengah adalah Matematika, Inggris, IPA, Shona atau Ndebele, Geografi, dan Sejarah. Ujian berlangsung di tahun keempat, atau di kelas 11 dan mengharuskan pelajar lulus setidaknya di 5 mata pelajaran termasuk IPA, Inggris, Matematika, Sejarah. Penilaian berupa huruf yang mana menentukan apakah pelajar bisa lanjut ke sekolah A-Level. Pelajar bisa lanjut ke sekolah menengah A-Level atau mengambil pelatihan guru, teknik, agrikultural, politeknik, dan kuliah perawat. Sertifikat A-Level diperlukan untuk masuk Universitas di Zimbabwe.

4.      Pendidikan Tersier

            Pendidikan tersier dioperasikan oleh Kementrian Pendidikan Tinggi dan Tersier, yang mana termasuk didalamnya Universitas, kuliah pelatihan guru, teknik, agrikultural, politeknik, dan pendidikan vokasi lainnya.

            Untuk kurikulumnya sendiri, menurut UPR Zimbabwe halaman 2,  Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah masih kurang relevan dengan kebutuhan pelajar. Hal ini terbukti dengan lulusan Pendidikan Menengah masih perlu kursus tambahan untuk bisa bertahan di dunia kerja. Banyak pelajar Drop-out dan O-Level pengangguran karena ilmu yang mereka dapatkan tidak memberikan mereka kemampuan untuk bisa bertahan di dunia kerja.

           Berdasarkan penjelasan di atas, kami menyimpulkan bahwa pendidikan di Zimbabwe masih cukup buruk dan perlu banyak perbaikan. Sekian artikel ini kami tulis, apabila ada kurang dan kesalahan kami mohon maaf sebesar-besarnya.